Workshop Penguatan Kompetensi Guru IPA Bantul Berbasis Etnosains, Project Based Learning, dan Framework PISA 2025

Departemen Pendidikan IPA FMIPA UNY bekerja sama dengan MGMP IPA Kabupaten Bantul menyelenggarakan workshop bertemakan ‘Penguatan Kompetensi Guru IPA Kabupaten Bantul dalam Pembelajaran dan Asesmen Sains Berbasis Etnosains, Project Based Learning, dan Framework PISA 2025’. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jum’at, 5 Juni 2026 di SMP Negeri 1 Imogiri dan diikuti oleh 30 guru IPA SMP se-Kabupaten Bantul. Workshop ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi profesional guru IPA dalam merancang pembelajaran dan asesmen yang selaras dengan Framework PISA 2025, sekaligus mendorong implementasi pembelajaran berbasis literasi sains (scientific literacy) yang kontekstual dan bermakna.

Kegiatan diawali dengan doa, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sambutan dari perwakilan Departemen Pendidikan IPA FMIPA UNY, Ketua MGMP IPA Bantul, Kepala SMP N 1 Imogiri, serta Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bantul. Melalui sambutan ini ditekankan pentingnya penguatan literasi sains, peningkatan kualitas pembelajaran IPA, dan penerapan pembelajaran yang kontekstual serta menyenangkan guna meningkatkan hasil belajar siswa terutama pada mata pelajaran IPA.

Acara dilanjutkan dengan pematerian oleh tim Departemen Pendidikan IPA. Sesi pertama disampaikan oleh Purwanti Widhy Hastuti, M.Pd. mengenai Framework PISA 2025 dan implikasinya dalam pembelajaran IPA. Selanjutnya, Dr. Rizki Arumning Tyas, M.Pd. memaparkan pembelajaran IPA berbasis etnosains melalui pendekatan Ethno-PjBL. Pada sesi ini salah satu topik yang diangkat adalah eksplorasi konsep sains melalui produk budaya seperti ‘jadah tempe’, sehingga siswa dapat mengaitkan konsep IPA dengan pengalaman sehari-hari. Sesi terakhir ditutup oleh Dr. Maryati, S.Si. yang membahas mengenai penyusunan asesmen berbasis PISA yang menekankan pengukuran kemampuan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah kontekstual.

Para peserta mengikuti workshop dengan antusias. Hal ini terlihat dari sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif, di mana peserta aktif mengajukan pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait pelaksanaan pembelajaran IPA di sekolah. Berbagai tantangan dalam implementasi Project Based Learning turut didiskusikan, mulai dari pembagian kelompok yang kurang merata, keterbatasan waktu pembelajaran, hingga kesulitan dalam memperkuat pemahaman konsep peserta didik selama pelaksanaan proyek. Acara ditutup dengan pemberian penugasan kepada seluruh peserta sebagai tindak lanjut dari materi yang telah diperoleh selama workshop. Penugasan ini diharapkan dapat membantu peserta mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dalam praktik pembelajaran IPA di sekolah.