Batik Kayu Krebet Menyapa Dunia Lewat Virtual Reality: Menyulam Tradisi dalam Ruang Digital

Krebet, sebuah desa kecil di Kecamatan Pajangan, Bantul, tak henti menorehkan inovasi. Dikenal luas sebagai desa penghasil batik kayu yang unik, kini Krebet melangkah ke era digital dengan memperkenalkan teknologi Virtual Reality (VR) sebagai media pelestarian dan promosi budaya lokal. Lewat teknologi ini, keindahan dan nilai-nilai filosofis batik kayu tak lagi hanya bisa dinikmati secara fisik, melainkan dapat diakses secara imersif oleh siapa pun, dari mana pun. Berlokasi di Sanggar Punokawan, pelatihan yang diikuti oleh 35 peserta dari kalangan pengelola desa wisata, tim digital, dan pemuda karang taruna ini menghadirkan semangat baru dalam pengembangan wisata edukatif berbasis budaya. Melalui serangkaian sesi pelatihan, peserta dibekali dengan tiga materi utama.

Materi pertama menyoroti pemanfaatan teknologi VR sebagai sarana inovatif dalam mengenalkan proses pembuatan batik kayu. Tidak sekadar visualisasi, konten VR yang dikembangkan juga membawa unsur etnosains, yaitu perpaduan antara sains dan budaya lokal. Proses membatik dikaji dari perspektif ilmu fisika, kimia, biologi, hingga matematika—sekaligus menunjukkan bahwa setiap tahap dalam membatik memuat nilai edukatif yang dapat dipelajari lintas disiplin. Materi kedua menekankan pentingnya pengelolaan wisata berbasis partisipasi masyarakat melalui pendekatan Community Based Tourism (CBT). Di dalamnya, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tapi juga pelaku utama dalam menjaga kesinambungan ekonomi, sosial, dan lingkungan desa wisata. Sementara itu, materi ketiga membekali peserta dengan pemahaman teknis mengenai pengembangan aplikasi VR dan teknologi pendukung lainnya, agar potensi lokal dapat dikemas secara digital secara mandiri.

Pada penghujung kegiatan, peserta mengikuti evaluasi melalui survei dan post-test, sekaligus menyaksikan penyerahan perangkat penunjang wisata VR kepada pihak desa. Perangkat tersebut meliputi 35 unit VR Box 3D, aplikasi VR yang menampilkan sejarah desa, wahana ekowisata, hasil kerajinan lokal, katalog produk, hingga testimoni pengunjung, serta buku panduan khusus bagi pengguna dan pengelola. Semua materi digital ini disiapkan untuk mendukung kemunculan atraksi baru bernama “Paket Wisata VR Desa Krebet.” Koordinator Desa Wisata Krebet, Agus Kumara Jati, S.E., menyambut baik program ini. “Kami sangat berterima kasih, ini sangat membantu memperkaya inovasi wisata di Krebet. Kami berharap VR bisa menjadi jembatan yang menghubungkan budaya lokal dengan wisatawan global,” ujarnya. 

Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang digagas oleh tim Universitas Negeri Yogyakarta. Tim terdiri atas Dr. Laifa Rahmawati (ketua), Indri Kurniawati, M.Sc., dan Dr. Sisca Rachmadonna, serta dibantu oleh mahasiswa: Aprilia Latifah Nur Pratiwi, Nadia Syarifa Syahida S., Pramayudha Rischo Herlambang, Shabrina Dwi Annisa, dan Ahmad Zahran Furqan. Kegiatan ini terselenggara melalui hibah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan didukung penuh oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Universitas Negeri Yogyakarta. Adapun judul kegiatan ini adalah “PKM Virtual Reality Berbasis Ekowisata untuk Meningkatkan Daya Tarik dan Keberlanjutan Pariwisata Batik Kayu di Desa Wisata Krebet.” Langkah ini menjadi bukti bahwa budaya tidak harus diam dalam bingkai masa lalu. Dengan teknologi sebagai penghubung, tradisi batik kayu Krebet justru berpotensi tampil lebih kuat dan relevan di mata generasi masa depan—baik di dalam negeri maupun di kancah global.