UNY Perkuat Kompetensi Guru Sekolah Indonesia di Timur Tengah melalui Inovasi Bahan Ajar Ethno-STE(A)M

Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui program pengabdian kepada masyarakat terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia di luar negeri. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui program “Penguatan Kompetensi Guru Sekolah Indonesia di Timur Tengah melalui Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar Ethno-STE(A)M Berbasis Potensi Lokal Indonesia.” Program ini bertujuan untuk mendukung pencapaian SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Program ini dilaksanakan sebagai respons terhadap kebutuhan guru Sekolah Indonesia di Timur Tengah akan bahan ajar yang tidak hanya sesuai dengan kurikulum, tetapi juga mampu menghadirkan konteks budaya dan potensi lokal Indonesia. Pembelajaran yang kontekstual menjadi penting agar siswa Indonesia yang berada dalam lingkungan multikultural tetap memiliki kedekatan dengan identitas serta kekayaan budaya tanah air.

Kegiatan ini diketuai oleh Prof. Dr. Asri Widowati, S.Pd.Si., M.Pd. bersama tim yang terdiri atas Ir. Ekosari Roektiningroem, M.P., Yuli Arti, M.Pd., serta mahasiswa Ahmad Atabik Adlysyah, Dian Candra Aditya, dan Hanan Nur Nabil. Program dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan sosialisasi, pelatihan, praktik pengembangan bahan ajar, aplikasi teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, kolaboratif, dan berorientasi pada produk. Dengan demikian, para guru tidak hanya memperoleh penguatan pengetahuan, tetapi juga menghasilkan bahan ajar yang dapat langsung digunakan dalam proses pembelajaran. Salah satu tahapan penting dalam program ini adalah pelatihan daring yang dilaksanakan pada 3 dan 18 Agustus 2026 dan diikuti oleh 38 guru. Materi pelatihan mencakup konsep dasar Ethno-STE(A)M, integrasi potensi lokal dalam pembelajaran, penyusunan bahan ajar inovatif, pengembangan proyek berbasis budaya lokal, serta strategi penerapannya di Sekolah Indonesia di luar negeri.

Pendekatan Ethno-STE(A)M memandu guru untuk menghubungkan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika dengan berbagai potensi budaya, lingkungan, tradisi, teknologi, makanan lokal, energi, serta isu keberlanjutan. Dengan demikian, kekayaan Indonesia dapat menjadi sumber belajar yang bermakna bagi siswa meskipun pembelajaran berlangsung jauh dari tanah air. Pelatihan tidak berhenti pada penguatan konsep. Peserta juga secara langsung mempraktikkan penyusunan bahan ajar melalui Learning Management System (LMS). Guru menggunakan template bahan ajar yang memuat konteks potensi lokal, pertanyaan pemantik, aktivitas STE(A)M, kegiatan investigasi atau eksperimen, proyek, asesmen autentik, refleksi, serta penguatan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Hasil program menunjukkan capaian yang memuaskan. Pada tahap aplikasi teknologi, seluruh peserta berhasil menyusun draf bahan ajar digital Ethno-STE(A)M yang disesuaikan dengan mata pelajaran dan jenjang pendidikan masing-masing. Produk tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui konsultasi daring, diskusi kelompok, dan peer review. Proses pendampingan membantu peserta menyempurnakan berbagai aspek bahan ajar, mulai dari perumusan tujuan pembelajaran, penguatan integrasi budaya dan potensi lokal, perbaikan aktivitas berbasis proyek, penyempurnaan asesmen autentik, hingga peningkatan kualitas tampilan bahan ajar digital. Proses ini tidak hanya menghasilkan produk pembelajaran, tetapi juga memberikan pengalaman profesional yang bermanfaat bagi para guru.

Program ini tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Bahan ajar yang telah dikembangkan akan terus disempurnakan melalui umpan balik dan telaah tim, kemudian diimplementasikan dalam pembelajaran di Sekolah Indonesia di Timur Tengah. Tahap implementasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar untuk mendokumentasikan praktik baik, respons siswa, berbagai kendala yang dihadapi, serta efektivitas penggunaan bahan ajar yang dikembangkan. Ke depan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan Sekolah Indonesia di Timur Tengah diharapkan dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang melalui pendampingan akademik, pelatihan lanjutan, serta pengembangan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, inovasi Ethno-STE(A)M tidak hanya menjadi kegiatan pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi model pengembangan profesional guru yang berkelanjutan dalam mendukung pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan tetap berakar pada potensi Indonesia.