HIMA IPA FMIPA UNY Selenggarakan Seminar Nasional Pendidikan IPA: Integrasi Etnosains dan Teknologi Digital untuk Memperkuat Literasi Sains

Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA (HIMA IPA) FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan Seminar Nasional Pendidikan IPA dengan mengangkat tema “Integrasi Etnosains dan Teknologi Digital dalam Pembelajaran IPA untuk Memperkuat Literasi Sains Generasi Masa Depan.” Kegiatan berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026, bertempat di Ballroom Lantai 4 Gedung Magister Doktor FMIPA UNY. Seminar ini menghadirkan dua akademisi sebagai narasumber, yaitu Dr. Susilowati dari Program Studi Pendidikan IPA UNY dan Beni Setiawan, Ph.D. dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Sementara itu, kegiatan dimoderatori oleh Dr. Ismail Fikri Natadiwijaya. Seminar dibuka oleh Koordinator Program Studi S1 Pendidikan IPA, Purwanti Widhy Hastuti, dan turut dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Perencanaan, Keuangan, Umum, dan Sumber Daya (PKUSD) FMIPA UNY, Dr. Pujianto.

Kegiatan tersebut mendapatkan antusiasme yang tinggi dengan diikuti oleh 216 peserta dari berbagai latar belakang, meliputi mahasiswa program sarjana (S1), magister (S2), doktor (S3), guru, praktisi pendidikan, serta masyarakat umum. Dalam pemaparannya, Dr. Susilowati membahas pentingnya penguatan literasi sains bagi generasi masa depan serta relevansi etnosains dalam pembelajaran IPA. Etnosains dapat menjadi pendekatan yang menghubungkan konsep-konsep sains dengan pengetahuan dan kearifan lokal yang berkembang di masyarakat, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Pembahasan juga menyoroti pentingnya rekonstruksi pengetahuan lokal menjadi konsep sains yang dapat dipelajari secara sistematis. Berbagai praktik masyarakat, seperti pembuatan garam, pengetahuan masyarakat Baduy, hingga teknologi tradisional masyarakat Banjar, dapat menjadi konteks untuk mengembangkan pemahaman konsep-konsep IPA. Sementara itu, Beni Setiawan, Ph.D. mengangkat perspektif integrasi etnosains dan teknologi digital dalam pembelajaran IPA. Dalam pemaparannya, ia menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat dikontekstualisasikan menjadi Ethno-Socio Scientific Issues (Etno-SSI), kemudian diperkuat dengan teknologi digital sebagai scaffolding dalam pembelajaran. Integrasi tersebut dapat dikemas melalui pendekatan inkuiri maupun proyek untuk mendukung pengembangan literasi sains dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Berbagai contoh implementasi turut dipaparkan, antara lain pemanfaatan Virtual Reality (VR) untuk menghadirkan konteks budaya secara imersif, AI-personalized learning untuk mendukung diferensiasi pembelajaran, serta pemanfaatan LMS dalam pembelajaran berbasis etnosains. Melalui seminar ini, peserta memperoleh wawasan mengenai pentingnya menghadirkan pembelajaran IPA yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep, tetapi juga mengaitkan sains dengan kehidupan nyata, budaya, perkembangan teknologi, dan tantangan masa depan. Integrasi etnosains dan teknologi digital diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan relevan bagi generasi masa depan. Kegiatan Seminar Nasional Pendidikan IPA ini menjadi salah satu bentuk kontribusi HIMA IPA FMIPA UNY dalam memperluas ruang diskusi akademik serta memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, guru, praktisi pendidikan, dan masyarakat dalam pengembangan pendidikan IPA di Indonesia.