Dr. Sabar Nurohman Dorong Generasi Muda Jadi Penggerak Inovasi Sains Berkelanjutan

Dr. Sabar Nurohman, M.Pd., Dosen Pendidikan IPA Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Nasional Science Learning Innovation (SN-SLI) yang merupakan bagian dari rangkaian Innovation Festival and Science Olimpiad (IFSO) 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh HMPS Tadris IPA Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Salatiga tersebut mengusung tema “Strengthening Youth Scientific Potential Through Innovation and Sustainability” dan dilaksanakan pada Selasa, 22 September 2026. Dalam seminar tersebut, Dr. Sabar membawakan materi mengenai penguatan potensi ilmiah generasi muda menuju inovasi yang berkelanjutan. Ia mengajak peserta melihat perubahan zaman bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang bagi pendidikan sains untuk menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi, berpikir kritis, berinovasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Dr. Sabar menyoroti perubahan karakteristik era yang dihadapi generasi muda, mulai dari perkembangan teknologi digital, Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Big Data, hingga perubahan kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Dalam kondisi tersebut, kemampuan menghafal informasi saja tidak lagi memadai. Generasi muda perlu mengembangkan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, kolaborasi, serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Menurut Dr. Sabar, perkembangan AI justru semakin menegaskan pentingnya kemampuan manusia dalam bertanya, memverifikasi informasi, menilai konteks, mempertimbangkan aspek etika, dan menentukan arah penggunaan teknologi. AI dapat membantu mencari informasi, menjelaskan konsep, menghasilkan ide, menganalisis data, hingga melakukan simulasi. Namun, manusia tetap memiliki peran penting dalam memberikan makna dan menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Dalam konteks pembelajaran IPA, Dr. Sabar mengajak peserta merefleksikan perlunya pergeseran dari pembelajaran yang berorientasi pada hafalan menuju pembelajaran yang menumbuhkan pemikir ilmiah dan inovator masa depan. Ketika informasi semakin mudah diperoleh melalui internet dan AI, pembelajaran IPA perlu mendorong peserta didik untuk mengajukan pertanyaan, menyelidiki, menganalisis, menjelaskan, menciptakan, dan mengambil keputusan. Pendekatan tersebut dapat diwujudkan melalui inquiry, persoalan autentik, literasi data, scientific reasoning, kolaborasi, kreativitas, dan inovasi. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menerima jawaban yang telah tersedia, tetapi belajar menemukan pertanyaan, menguji bukti, menganalisis data, dan menghasilkan solusi.

Salah satu pesan penting yang disampaikan Dr. Sabar adalah bahwa AI bukan pengganti manusia. AI dapat memberikan jawaban, tetapi pendidikan tetap harus mengajarkan peserta didik untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Teknologi dapat mempercepat akses informasi dan membantu mengolah data, tetapi kemampuan manusia dalam menggunakan nalar, nilai, dan empati tetap diperlukan untuk memberikan makna dan arah. Karena itu, pemanfaatan AI dalam pembelajaran perlu diarahkan untuk memperkuat kemampuan manusia dalam mengeksplorasi, belajar, menganalisis, menciptakan, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan. Dr. Sabar juga memperkenalkan konsep Scientific Potential yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan IPA. Potensi ilmiah mencakup curiosity, scientific literacy, problem solving, scientific questions, scientific communication, collaboration, dan scientific responsibility. Ia memperkenalkan siklus berpikir ilmiah yang dimulai dari curiosity, observe, question, investigate, analyze data, apply knowledge, serta reflect and improve. Dalam kerangka tersebut, inovasi dipandang sebagai penerapan cara berpikir ilmiah untuk menghasilkan solusi bagi kehidupan yang lebih baik.

Salah satu gagasan utama yang ditekankan Dr. Sabar adalah “Don’t start with technology. Start with a problem.” Peserta diajak untuk tidak memulai inovasi dengan pertanyaan mengenai teknologi apa yang paling canggih, tetapi terlebih dahulu mengidentifikasi masalah apa yang perlu diselesaikan. Teknologi kemudian digunakan sebagai alat untuk menghasilkan solusi yang relevan, bermakna, dan berdampak. Dalam pembelajaran IPA, teknologi dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman yang sulit dilakukan secara langsung, seperti simulasi, visualisasi tiga dimensi, eksperimen yang lebih aman, pengolahan data, hingga pemantauan kondisi secara real-time. Dr. Sabar juga mendorong generasi muda untuk bertransformasi dari consumer menjadi creator. Generasi muda tidak cukup hanya menggunakan teknologi untuk mencari informasi atau hiburan, tetapi perlu belajar mengamati, menyelidiki, merancang, bereksperimen, membuat prototipe, dan menghasilkan solusi. Salah satu pesan yang dibawa dalam materi tersebut adalah, “Dari rasa ingin tahu, lahir inovasi. Dari inovasi, lahir masa depan yang lebih baik.” Selain teknologi dan inovasi, Dr. Sabar mengingatkan bahwa tidak semua inovasi otomatis berarti kemajuan. Sebuah inovasi perlu mempertimbangkan konsekuensi lingkungan, sosial, ekonomi, dan etika.

Ia mengajak peserta merefleksikan apakah sebuah teknologi dapat disebut sebagai inovasi yang baik apabila mampu menyelesaikan satu masalah tetapi pada saat yang sama menciptakan masalah baru. Oleh karena itu, inovasi perlu efektif menyelesaikan masalah, memberikan dampak nyata, dapat berlanjut dalam jangka panjang, ramah lingkungan, bermanfaat secara sosial, layak secara ekonomi, dan bertanggung jawab secara etika. Melalui kehadirannya sebagai narasumber dalam SN-SLI, Dr. Sabar turut berbagi perspektif mengenai pentingnya membangun generasi yang curious, critical, creative, collaborative, dan responsible. Perspektif tersebut menempatkan pendidikan sains bukan sekadar sebagai proses penguasaan konsep, tetapi sebagai ruang untuk membangun kemampuan berpikir ilmiah, menciptakan inovasi, memanfaatkan teknologi secara bijak, dan menghasilkan solusi yang berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi Dosen Pendidikan IPA FMIPA UNY dalam memperluas jejaring akademik dan berbagi gagasan mengenai inovasi pembelajaran sains kepada mahasiswa dan komunitas akademik di berbagai perguruan tinggi.