Kuliah Praktisi IPBA Hadirkan Perspektif BMKG tentang Perubahan Iklim, Kebencanaan, dan Pemanfaatan AI

Program Studi Pendidikan IPA FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan Kuliah Praktisi pada mata kuliah Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA) dengan menghadirkan Dr. Ida Pramuwardani, M.Si., Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG sebagai narasumber. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Jumat (25/9) ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung dari praktisi mengenai dinamika cuaca, perubahan iklim, kebencanaan, serta perkembangan layanan informasi meteorologi dan klimatologi. Dalam sesi tersebut, Dr. Ida memaparkan realitas perubahan iklim di Indonesia, termasuk peningkatan suhu global, perubahan pola cuaca, mencairnya es abadi di Pegunungan Jayawijaya, serta ancaman kenaikan muka air laut di wilayah pesisir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dan berbagai sektor pembangunan.

Mahasiswa juga diajak memahami sejumlah faktor pengendali cuaca dan iklim Indonesia, seperti ENSO (El Niño dan La Niña), Indian Ocean Dipole (IOD), gelombang tropis dan ekuator, Madden-Julian Oscillation (MJO), monsun Asia-Australia, serta siklon tropis. Fenomena tersebut dapat memengaruhi curah hujan dan pada akhirnya berdampak terhadap sektor pertanian, harga pangan, dan ketahanan pangan. Salah satu pembahasan yang menarik adalah transformasi layanan informasi BMKG melalui pendekatan Impact-Based Forecast (IBF). Pendekatan ini menggeser orientasi informasi dari sekadar menjawab “apa yang akan terjadi” menjadi “apa dampaknya dan apa yang harus dilakukan”. Mahasiswa diperkenalkan pada bagaimana informasi cuaca dan iklim dapat diterjemahkan menjadi informasi risiko yang lebih relevan bagi masyarakat dan berbagai sektor.

Dr. Ida juga menjelaskan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam layanan BMKG. AI telah dimanfaatkan dalam berbagai tahapan pemodelan, mulai dari pre-processing, asimilasi data, downscaling, parameterisasi, deteksi cuaca ekstrem, hingga diseminasi informasi. Data radar dan satelit juga dikombinasikan dengan model numerik melalui pendekatan machine learning dan deep learning. Selain itu, sesi diskusi membahas keterbatasan observasi di wilayah 3T, sistem peringatan dini tsunami, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat dalam mengantisipasi bencana. Mahasiswa didorong untuk memahami pola musim dan cuaca lokal, mengenali kondisi lingkungan dan wilayah rawan bencana, serta menguasai protokol keselamatan ketika menghadapi bencana hidrometeorologi. Kuliah praktisi ini memperkuat keterkaitan pembelajaran IPBA dengan persoalan nyata di masyarakat. Perspektif praktisi BMKG juga memberikan gambaran kepada mahasiswa Pendidikan IPA mengenai pentingnya meteorologi, klimatologi, teknologi informasi, dan literasi kebencanaan sebagai bagian dari kompetensi pendidikan sains yang relevan dengan tantangan masa kini.